Dalam perbincangan panjang di Akbar Faizal Uncensored (AFU), Komjen Pol Chrisnanda Dwilaksana mengurai pelbagai tantangan yang kini membelit kepolisian. Dari meja rapat ia beranjak sejenak untuk duduk di depan mikrofon, membawa serta kegelisahan institusi yang sedang berjuang membenahi diri.
Chrisnanda menjelaskan bahwa pekerjaan timnya berjalan dengan sistematis. Delapan kelompok kerja dibentuk untuk mengurai isu organisasi, SDM, pelayanan publik, pengawasan, hingga media, teknologi, dan regulasi. “Setiap hari ada laporan harian, mingguan, hingga bulanan. Semuanya kita kumpulkan, kita bukukan. Karena literasi adalah kunci,” katanya. Bagi Chrisnanda, literasi bukan hanya sekadar baca tulis, melainkan kesadaran kolektif untuk belajar, memperbaiki kesalahan masa lalu, hingga menyiapkan masa depan lebih baik.
Namun, keresahan publik yang ditangkap Akbar Faizal tidak dikesampingkan. Ia mengajukan pertanyaan yang lama bergulir: bukankah selama satu dekade terakhir kepolisian terlampau sering melibatkan diri dalam pusaran politik? Chrisnanda tak menampik. Menurutnya, inilah titik krusial mengapa reformasi harus menyinggung soal rekrutmen. “Dosa terbesar polisi ada pada rekrutmen. Kalau salah merekrut, seumur hidup dia jadi duri dalam daging,” ucapnya tegas.
Ia mengakui bahwa sistem patrimonial masih membayangi, membuat polisi hebat di lapis bawah sering tak terlihat. “Orang pintar kadang dianggap nyengkelin. Akhirnya mereka cari perewangan, ke politik, atau ke orang-orang berkuasa,” tuturnya. Untuk itu, Chrisnanda mendorong keterbukaan: seleksi harus transparan, fit and proper harus digelar, agar peluang jabatan strategis tidak lagi dikunci oleh patronase lama.
Di penghujung percakapan, nada suaranya merendah, namun penuh keyakinan. “Polisi ini adalah bagian dari reformasi. Pilar demokrasi yang harus didukung masyarakat sipil. Kalau tidak berubah sekarang, kapan lagi? Kalau bukan kita, siapa lagi?” (bs)




