Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Rocky Gerung menepis anggapan bahwa dirinya akan kehilangan kebebasan berpikir setelah masuk ke lingkungan Istana setelah dirinya mendapat jabatan. Dia menyangkal, posisi Wantimpres berbeda dengan menteri karena salah satu fungsinya adalah memberikan pertimbangan kepada presiden, termasuk mengenai aspek etis suatu kebijakan. Menurutnya, kritik yang selama ini disampaikannya dari luar pemerintahan justru dapat diteruskan secara langsung kepada Prabowo.
Dia menilai penyampaian kritik dari jarak dekat dapat lebih efektif karena presiden memperoleh masukan langsung tanpa harus melalui berbagai lapisan birokrasi. Rocky mengaku tak khawatir apabila pandangannya membuat presiden tersinggung. Dia mengaku telah memahami adanya kesepakatan dengan Prabowo yang memungkinkan dirinya tetap berbicara sesuai dengan karakter dan pemikirannya.
Rocky juga menegaskan tidak akan mengubah kritiknya terhadap pemerintahan sebelumnya, termasuk terhadap Presiden ke-7 Joko Widodo dan Gibran. Mengubah cara berpikir demi menyesuaikan diri dengan lingkungan kekuasaan justru akan menimbulkan persoalan bagi dirinya sendiri. “Begitu saya mulai edit logika saya, mulai mengganggu saya sendiri. Tidak mungkin. Jadi enggak akan ada basa-basi di situ,” ujarnya dalam pdocast Akbar Faizal Uncensored disaksikan Afu.id di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Rocky turut menanggapi kritik yang menyebut keputusannya bergabung dengan Wantimpres sebagai bentuk kompromi dengan kekuasaan atau upaya mencari keuntungan pribadi. Diketahui, setiap bulan, anggota Wantimpres menerima gaji sebesar Rp76 juta. Tetapi, dia mengaku tidak mengetahui secara pasti besaran gaji yang akan diterimanya sebagai anggota Wantimpres. Dirinya memastikan bahwa uang bukan alasan dirinya menerima jabatan tersebut. “Secara psikologi kenikmatan dengan uang itu enggak ada di gue,” katanya.
Dia juga menolak anggapan bahwa dirinya harus kehilangan kebebasan intelektual hanya karena memperoleh jabatan dan fasilitas negara. Bagi Rocky, ukuran integritas seseorang justru terlihat ketika berhadapan langsung dengan kekuasaan. Menurut dia, keberanian mengkritik dari luar pemerintahan belum cukup untuk membuktikan bahwa seseorang mampu mempertahankan prinsip ketika berada di dalam lingkaran kekuasaan. Karena itu, dia meminta publik menilai sikap dan tindakannya melalui pembuktian, bukan semata-mata berdasarkan keputusannya menerima jabatan.
Rocky memperkirakan orang-orang yang kini meragukan integritasnya suatu saat dapat mengubah penilaian mereka. “Tunggu aja 10 tahun lagi mereka minta maaf ke gue,” ujarnya. Dia menegaskan tetap berpegang pada gagasan keadilan sosial, kebebasan manusia, dan perlindungan lingkungan yang selama ini menjadi bagian dari aktivitas intelektualnya.
Tanggapi Kritik dari Sesama Aktivis
Keputusan Rocky masuk ke lingkungan Istana menuai kekecewaan dari sebagian orang yang selama ini mengikuti pemikiran dan kritiknya terhadap pemerintah. Rocky memahami bahwa sebagian orang menganggap langkah tersebut sebagai bentuk pengkhianatan terhadap posisi kritis yang selama ini dia bangun.
Namun, dia menilai kekecewaan itu muncul karena sebagian pendukungnya terlalu berharap dirinya selalu bertindak sesuai dengan ekspektasi mereka. Rocky mengatakan dirinya tidak pernah meminta orang lain menjadikannya representasi tunggal gerakan intelektual publik. Menurut dia, orang yang tidak setuju dengan keputusannya seharusnya mampu membangun alternatif gerakan, bukan hanya melontarkan kritik dan kekecewaan.
Dia juga membantah telah meninggalkan nilai-nilai yang selama ini diperjuangkannya. Rocky menegaskan bahwa berada di dalam pemerintahan tidak otomatis membuat seseorang kehilangan sikap kritis. Sebaliknya, dia menilai keberadaannya di dekat presiden justru membuka peluang untuk menyampaikan kritik secara langsung. Dalam perbincangan itu, Rocky kembali menegaskan bahwa dirinya tidak berniat mengubah karakter demi mempertahankan jabatan.
Dia mempersilakan publik terus mengkritik dan menilai kinerjanya selama berada di Wantimpres. Bagi Rocky, waktu akan menjadi pembuktian apakah keputusannya masuk ke Istana membuatnya tunduk pada kekuasaan atau justru memberinya ruang lebih besar untuk mengawasi jalannya pemerintahan.




